Rabu, 24 November 2010

STUDI EVALUATIF TERHADAP PROGRAM PEMBINAAN AIK KARYAWAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Oleh: Syamsurizal Yazid

A. Pendahuluan
       Seperti dikatakan oleh Dr. Ir. M. Imaduddin Abdulrahim, M.Sc. (1990) bahwa salah satu faktor yang dianggap kuat mempengaruhi peningkatan motivasi kerja dalam usaha meningkatkan mutu dan produktivitas lembaga adalah sistem nilai yang dianut.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai salah satu institusi yang bernaung di bawah Persyarikatan Muhammadiyah senantiasa berusaha meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)nya dalam rangka peningkatan mutu dan produktivitas lembaga. Peningkatan mutu ini tidak hanya dengan cara memenuhi  kebutuhan kesejahteraan dalam aspek materi dan kebutuhan jasmani saja, tetapi juga dengan memenuhi kebutuhan spiritual. Pembinaan keagamaan (baca: AIK) merupakan salah satu usaha yang mempunyai peranan terbesar dalam  usaha memenuhi kebutuhan dalam bidang rohani ini. Agama mempunyai peranan yang dominan dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang. Semakin tinggi tingkat keimanan dan ketaqwaannya, maka akan semakin baik pula sikap dan perilakunya. Nilai-nilai Agama yang sudah tertanam di dalam dirinya, diharapkan akan melahirkan sikap dan perilaku yang terpuji, seperti jujur, berdisiplin, ramah, amanah, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Sikap dan perilaku yang terpuji tersebut sangat penting artinya dalam usaha meningkatkan mutu dan produktivitas kerja  karyawan UMM.
Pembinaan AIK bagi karyawan yang merupakan usaha menanamkan nilai-nilai (values) Al-Islam akan berhasil dengan baik apabila didukung oleh materi-materi program, metode, instruktur dan sarana dan prasarana yang baik  pula.
       Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah. Maksud dan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri, seperti termaktub dalam Anggaran Dasar, adalah: “Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wa ta’ala”.( Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1990)
       Dalam usaha mencapai hal tersebut di atas dan  menambah wawasan serta  menanamkan nilai-nilai keagamaan (baca: AIK) pada karyawannya, UMM melakukan pembinaan melalui  program pembinaan AIK yang dilaksanakan oleh Asisten Koordinator Bidang (Askorbid) AIK.
Selama ini sering muncul kritikan terhadap program pembinaan Karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dianggap masih belum efektif dan tertata dengan baik., baik itu yang menyangkut materi, metode, instruktur dan sarana dan prasarana.  
       Evaluasi terhadap program pembinaan AIK bagi Karyawan UMM ini dianggap penting untuk menemukan kelemahan (weakness) dan hambatannya. Setelah itu perlu dicarikan solusinya dalam rangka perbaikan program pembinaan AIK tersebut di masa-masa mendatang.  Hal ini sejalan dengan perintah Allah agar setiap orang supaya senantiasa melakukan evaluasi terhadap apa-apa yang sudah dilakukan demi kehidupan yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,  dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 18).
                   Untuk keperluan penelitian ini, maka akan dilakukan identifikasi terhadap program-program pembinaan AIK bagi karyawan yang sudah dilaksanakan selama ini dengan melalui dokumen dan arsip yang ada. Setelah itu Peneliti akan menyusun  pedoman wawancara  yang nantinya akan digunakan untuk memperoleh data tentang penilaian dan tanggaran para responden tentang program pembinaan tersebut, yang meliputi: materi, metode, instruktur, sarana dan prasarana serta kendala-kendala pelaksanaannya. Kemudian Peneliti akan terjun ke lapangan untuk melakukan serangkaian wawancara dengan mendalam dengan responden untuk memperoleh data yang diperlukan. Setelah itu melakukan analisis terhadap data yang sudah diperoleh dan terakhir membuat draft laporan.
     Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap program pembinaan AIK bagi Karyawan yang sudah dilaksanakan selama ini.    Evaluasi ini meliputi penilaian terhadap  bentuk program, tujuan, ruang lingkup materi, metode, sarana dan prasarana dan tingkat keberhasilannya.
     Untuk memperoleh data tentang masalah ini, Peneliti menggunakan penelitian lapangan (field reserach), yakni Peneliti terjun ke semua fakultas dan jurusan di lingkungan UMM. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumenter. Penjelasan tentang metodologi penelitian ini adalah sebagai berikut:
               1.  Lokasi Penelitian: Universitas Muhammadiyah Malang.
               2.  RespondenPenelitian: Para pejabat struktural di fakultas, para kaur dan para instruktur
               3.  Teknik Pengumpulan Data: observasi, wawancara mendalam dan dokumenter.
               4.  Teknik Analisa Data: Teknik analisis kualitatif dan kuantitaif.
                 Sedangkan rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut:
               1.  Apakah program  pembinaan AIK bagi karyawan edukatif dan administratif
sudah dapat dilaksanakan secara efektif?
               2.  Apa saja kendala-kendala pelaksanaan program AIK karyawan tersebut?
Kata evaluasi” yang berati penilaian berasal dari bahasa Inggris “evaluation” yang dibentuk dari akar kata “to evaluate”, yang di dalam  kamus “The Advanced Learner’s Dictionary of Current English  diartikan “find out, decide, the amount or values of” (menemukan, menentukan jumlah atau nilai-nilai tentang (sesuatu).
Di dalam buku Pedoman Pelaksanaan Perkaderan Muhammadiyah dijelaskan pelaksanaan evaluasi sebagai berikut:
           a.  Evaluasi program, yang meliputi evaluasi pencapaian tujuan, penentapan materi/kurikulum, tingkat partisipasi, perkembangan pseserta dan keberhasilan peserta (dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik).
          b.  Evaluasi Penyelenggaraan, yang meliputi evaluasi terhadap kepanitiaan, instruktur/nara sumber, metode dan penyajian materi dan proses pembinaan yang dipandang perlu.
       Ada beberapa penjelasan makna dari penilaian (evaluasi) sebagai berikut http:webspi.hypermart.net.kurikulum pendidikan Islam.htm,:
 “Istilah penilaian mempunyai bermacam-macam konotasi. Sebagian orang menganggap bahwa penilaian sama dengan tes atau pemberiaan nilai  (grading). Pemberian nilai memang sebagian dari kegiatan penilaian, tetapi lebih dari sekedar pemberian nilai. Penilaian dapat diartikan sebagai pemberian nilai (valuing) atau pertimbangan, yang dalam dunia pendidikan dapat berarti mempertimbangkan siswa, guru, kegiatan belajar mengajar, atau kurikulum. Dari sini, kita dapat mengerti bahwa penilaian merupakan proses, yaitu proses pembuatan pertimbangan terhadap suatu hal.
Pembuatan pertimbangan tersebut hanya dapat dilakukan jika ada masukan-masukan yang berupa informasi. Oleh karena itu, sebelum membuat pertimbangan harus pula didahului dengan kegiatan pengumpulan informasi. Berdasarkan informasi yang terkumpul itulah dilakukan kegitan pembuatan pertimbangan yang kemudian dipakai sebagai dasar pembuatan keputusan. Proses penilaian yang demikian sesuai dengan definisi evaluasi seperti yang dikemukakan oleh Cronbach (1963, cf. Saylor and Alexander, 1979: 302) yang mengatakan bahwa penilaian adalah proses keputusan tentang suatu program pendidikan.
Menurut Carter McNamara, PhD; last revision: Feb 16, 1998)http://www.Map  np.org/library/evaluatn/chklist.htm" ada tiga tipe evaluasi, yaitu:
                1.  Goals-Based Evaluation (are your programs achieving their overall, predetermined objectives?)
               2.  Process-Based Evaluations (understanding how your program really works, and its strengths and weaknesses)
               3.  Outcomes-Based Evaluation
       Ada berbagai macam program pembinaan keagamaan
       Seperti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta misalnya. Program pembinaan keagamaan bagi karyawan adalah sebagai berikut:
          1.  Kajian Islam Intensif
          2.  Pengajian dan Kultum (kuliah tujuh menit)
          3.  Sosialisasi ajaran Islam
          4.  Tes dan bimbingan baca al-Qur’an
          5.  Forum ukhuwah
       Sementara di dalam Darul Arqam program pembinaan bagi kader Muhammadiyah dituangkan dalam bentuk kurikulum, yang materinya meliputi:
          1.  Materi yang terkait dengan pembinaan ideologi terdiri dari:
                    a.  Hakekat Islam
                    b.  Kemuhammadiyahan yang terdiri dari: Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan Strategi Perjuangan Muhammadiyah
               2.  Materi yang berkaitan dengan pengembangan wawasan dan kebangsaan dan ideologi-ideologi internasional, yang diberikan dalam bentuk kapita selecta yang materinya meliputi: Sekularisme, Kristenisasi dan Nativisme, modernisasi dan  pembangunan, Isme-isme mutakhir, teori-teori perubahan sosial, Pancasila, perkembangan filsafat dan ideologi modern, sejaran dan pemikiran kebudayaan Islam dan Islam sebagai sistem sosial.
            Demikian beberapa program pembinaan keagamaan secara umum.
Bentuk pembinaan Al-Islam ini sangat bervariatif, sangat bergantung pada institusi yang melaksanakan. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta misalnya(http://www.umy.ac.id), bentuk pembinaan Al-Islam berupa:
                    a.  Kajian Islam Intensif.
                    b.  Pengajian dan Kultum (kuliah tujuha menit).
                    c.  Sosialisasi Ajaran Islam
                    d.  Tes dan Bimbingan Baca Al-Qur’an
                    e.  Forum Ukhuwah
               Badan Litbang Agama dan Diklat Kegamaan Departemen Agama RI (2004) (http://www.depag.web.id)—dalam upaya meningkatkan wawasan keberagamaan guru-guru Agama SMU—melakukan workshop sebagai bentuk pembinaannya.
               Pada umumnya materi pembinaan Al-Islam itu sama dengan materi pendidikan dan pengajaran Al-Islam, yang secara garis besarnya mencakup tiga aspek, yaitu: aqidah, syari’ah (ibadah) dan Ihsan (akhlak) (Drs. Nasruddin Razak, 1985).
               Masing-masing aspek ini akan dijabarkan lagi menjadi sub-sub bagian. Karena sangat luasnya cakupan masing-masing aspek materi di atas—sementara waktu penyampaiannya terbatas—maka biasanya materi pendidikan dan pengajaran atau pembinaan Al-Islam disesuaikan dengan situasi dan kondisi dan dipilih bagian-bagian yang dianggap penting dan sesuai dengan yang dibutuhkan.
               Di samping itu, biasanya pembelajaran tentang baca tulis Al-Qur’an diberikan terlebih dahulu dalam pembinaan Al-Islam, karena kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan dasar untuk dapat melaksanakan ibadah, khususnya salat.
               Menurut Dr. Zakiah Daradjat ( 1995: 63-117) ruang lingkup pembelajaran Agama itu ada dua belas, yaitu: keimanan, akhlak, ibadah, Fiqih, Ushul Fiqih, Qira’ah, Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadis, Ilmu Hadis, Tarikh Islam dan Tarikh Tasyri’.
               Karena luasnya ruang lingkup materi pembelajaran Agama Islam ini, maka ini  hanya tepat untuk pebelajaran formal, tetapi untuk kepentingan pembinaan karyawan ruang lingkupnya dapat dipersempit lagi disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
               Berdasarkan uraian di atas, maka bagaimanapun ruang lingkup pembelajaran Al-Islam itu yang paling pokok adalah: akidah, syariah (ibadah) dan akhlak. Setiap pembelajaran tidak lepas dari ketiga hal di atas.

Tujuan (goal) yang hendak dicapai dalam pembinaan Al-Islam mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan adanya tujuan ini, maka di samping arah pembinaan yang hendak dicapai tidak kabur, juga program-program pembinaan yang sudah direncanakan (planned) akan terarah kepada tujuan yang jelas.
Tujuan pembinaan pada dasarnya sama dengan tujuan pendidikan dan pengajaran Al-Islam. Hanya saja tujuan ini ada yang bersifat umum dan ada juga yang bersifat khusus.
Dr. Zakiah Daradjat (1996: 73) mengatakan bahwa tujuan pengajaran, termasuk pembinaan, harus berfungsi sebagai:
                    a.  titik pusat perhatian dan pedoman dalam melasanakan kegiatan pengajaran;
                    b.  penentu arah kegiatan pengajaran;
                    c.  titik pusat perhatian dan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan pengajaran;
                    d.  bahan pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup pengajaran;
                    e.  pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan kegiatan”.

Tujuan umum pendidikan Al-Islam—seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. H. Jalaluddin (2001: 90) “sesuai dengan hakikat penciptaan manusia, yaitu agar manusia menjadi pengabdi Allah yang patuh dan setia”.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
 menyembah-Ku. (Surat Adz-Dzariyat, ayat 56).
Al-Syaibany (1979), seperti dikutip oleh Jalaluddin di atas, mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah “untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah”.
Menurut Dr. Zakiah Daradjat ( 1996: 72) tujuan pendidikan Islam adalah “kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam”.
Dari tujuan umum pendidikan Islam itulah kemudian dijabarkan menjadi tujuan-tujuan khusus.  Di UMY misalnya, tujuan pembinaan Al-Islam bagi dosen dan karyawan adalah “bertujuan untuk meningkatkan ghirah (semangat) dan kualitas keberagamaan para dosen dan karyawan yang tercermin lewat pemahaman keseharian yang Islami”.

Pada dasarnya metode pembinaan sama dengan   metode-metode yang
digunakan dalam pembelajaran dan pelatihan. Seperti  dikemukakan oleh Dr. Zakiah Daradjat di atas, di antara metode-metode yang biasanya digunakan da-
lam pembelajaran adalah: ceramah, diskusi, eksperimen, demonstrasi,
pemberian tugas, sosiodrama, drill (latihan), kerja kelompok, tanya jawab
dan proyek.

Di samping itu masih banyak lagi metode-metode yang lain, yaitu (Team, 2005:89-103): Problem solving (Metode Pemecahan Masalah), Portofolio, Pembelajaran dengan alat bantu komputer dan Games (permainan), Buzz group, Studi Kasus, Curah Pendapat, Studi Lapangan, On the Job Training, Presentasi, Diskusi Kelompok  dan Seminar.
               Sarana dan prasarana dimaksudkan fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk menunjang keberhasilan pendidikan/pembinaan seperti ruang, peralatan-peralatan, buku-buku dan lain sebagainya. Termasuk dalam hal ini Media Pendidikan, yaitu suatu benda yang dapat dilihat dan didengar, baik yang ada di dalam maupun di luar kelas (Zakiah Daradjat, 1995: 226-233).
B. Pelaksanaan Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyah bagi Karyawan di UMM
       Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi karyawan (karyawan Edukatif dan karyawan administratif) dilaksanakan oleh Asisten Koordinator Bidang AIK yang langsung bertanggung jawab kepada Pembantu Rektor II dan Rektor. 
          1.  Bentuk Pembinaan
Ada beberapa bentuk pembinaan AIK bagi karyawan yang sudah dilaksanakan selama ini, yaitu: Kajian, Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an, Pembelajaran Bahasa Arab, Pekan I’tikaf Ramadhan (PIR) dan Pengajian.
                     a.  Kajian
          Kajian ini berupa pengkajian terhadap materi-materi yang mencakup tiga aspek ajaran Islam, yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Hanya saja masih menitik beratkan pada sentuhan rohani, sedangkan kajian dalam bentuk pemikiran porsinya masih sedikit.
Sebelumnya program pembinaan AIK dalam bentuk kajian ini dilaksanakan di Masjid AR Fakhruddin bagi para karyawan di kampus III. Setelah itu, karena dianggap kurang efektif, maka dilaksanakan di unit-unit.  Sedangkan untuk karyawan di kampus II di masjid Ad-Dakwah dan karyawan kampus I di Mushalla. Kajian ini lebih banyak diikuti oleh karyawan administratif. Berdasarkan data presensi kehadiran peserta tahun 2004 bahwa karyawan adminstratif yang mengikuti pembinaan AIK  dalam bentuk kajian ini mencapai 80 %, sedangkan karyawan edukatif hanya mencapai 10 %.
Berdasarkan hasil interview dengan 13  kaur, sebagai ketua kelompok,  dan 15 orang peserta aktif bahwa ruang lingkup materi, tujuan, metode dan instruktur yang digunakan dalam kajian tersebut sudah cukup baik, hanya saja masih ada di antara dosen pembina (2 orang)  yang masih terlalu menekankan metode ceramah. Sedangkan yang menyangkut sarana dan prasarana, baik kaur dan maupun peserta yang menggunakan mushalla di gedung Fakultas Ekonomi, mushalla lantai V GKB I  mengeluh dengan sarana ruangan yang terbatas yang juga digunakan oleh para mahasiswa untuk melaksanakan salat Dzuhur, sehingga harus menunggu mereka selesai melaksanakan salat. Sedangkan yang lain tidak ada keluhan, sebab di samping menggunakan ruangan yang memang tidak digunakan oleh para mahasiswa.
Di kalangan para pejabat struktural (Dekan) dan PSIF menilai bahwa kajian yang selama ini dilakukan hanya cocok untuk karyawan administratif, sebab materi yang disajikan pada umumnya masih bersifat sentuhan rohani, sedangkan yang sifatnya pemikiran masih sangat sedikit.
Berdasarkan dokumen Asisten Koordinatror Bidang AIK data peserta  kajian tahun 2004 yang ada di adalah sebagai berikut:
                    b.  Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an.
                      Untuk pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an, yang selama ini sudah dilakukan adalah untuk  karyawan administratif yang belum dapat membaca Al-Qur’an, artinya pembelajaran ini masih dalam batas pembelajaran membaca. Pesertanyapun sangat sedikit. Sedangkan pembelajaran membaca dengan tajwid masih dilakukan bersamaan dengan waktu kajian dengan waktu yang sangat terbatas, sebab dalam kajian tersebut hanya disediakan waktu 15 menit untuk pembelajaran Al-Qur’an untuk setiap pertemuan untuk sekian banyak peserta.
          Sedangkan untuk pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an untuk karyawan edukatif sama sekali tidak ada. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang dijelaskan dalam dalam pembahasan tentang hambatan-hambatan. Hanya saja di kalangan Fakultas ada yang melakukan program kajian sendiri seperti dilakukan oleh Fakultas Teknik, FKIP dan FISIP yang mendatangkan nara sumber dari dosen AIK. Waktunya setiap bulan sekali. Bahkan di Fakultas Ekonomi ibu-ibu dosen melakukan kajian setiap hari Jum’at.
                    c.  Pembelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran bahasa Arab, khususnya untuk karyawan edukatif pernah dilakukan pada tahun 2003, yang penekanannya pada pembelajaran penerjemahan Al-Qur’an,  tetapi setelah itu tidak ada kelanjutannya.
Program ini sebenarnya lebih tepat dikatakan program pembelajaran terjemah Al-Qur’an, sebab para peserta diajari bagaimana menterjemahkan Al-Qur’an.
Berdasarkan data peserta, pada awalnya yang ikut ada 20 (dua puluh) orang, tetapi akhirnya hanya tinggal 10 peserta yang mengikuti sampai selesai.
Metode yang digunakan ditekankan pada metode terjemah.
                    d.  Pekan I’tikaf Ramadhan (PIR)
          PIR dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada setiap bulan Ramadhan. Pelaksanaannya dua hari untuk karyawan putra dan putri. Untuk PIR ini lebih banyak diikuti oleh karyawan administratif, sedangkan karyawan edukatif relatif sedikit yang mengikuti.
          Berdasarkan data presensi kehadiran peserta PIR 2004 khususnya peserta karyawan administratif yang mengikutinya mencapai 90 %, sedangkan karyawan edukatif hanya 25 % saja.
          Berdasarkan pengamatan Peneliti yang juga mengikuti PIR pada tahun-tahun sebelumnya bahwa ada di antara peserta yang tidak mengikuti program ini sampai selesai dengan tanpa alasan yang jelas.
          Di kalangan kaur, peserta aktif dan pejabat struktural  di atas menilai bahwa materi, tujuan dan metode yang digunakan dalam kajian di PIR perlu ditinjau ulang, sebab materi dan metode yang digunakan cenderung membosankan, sebab di samping materi yang disajikan cenderung mengulang-ulang dari tahun-tahun sebelumnya dan juga materi yang digunakan masih lebih menekankan metode ceramah. Menurut penilaian mereka arah dan tujuan program tidak jelas. Sedangkan yang menyangkut sarana dan prasarana tidak ada satupun di antara responden yang mengeluh, karena memang pelaksanaan PIR dilaksanakan di masjid AR Fakhruddin yang cukup luas.
                    e.  Pengajian.
          Pengajian yang ini dilaksanakan secara insidental dan disesuaikan dengan peringatan hari-hari besar Islam atau bertepatan dengan acara tertentu yang mendatangkan nara sumber dari luar.
          Program inipun masih banyak diikuti oleh karyawan administratif. Berdasarkan presensi kehadiran dan pengamatan langsung bahwa peserta karyawan yang mengikuti acara ini mencapai 80 %, sedangkan dari karyawan edukatif yang aktif mengikutinya sangat bervariasi, artinya melihat siapa nara sumbernya. Kalau nara sumbernya dari luar dan sudah cukup populer, maka mereka mengikutinya, seperti Amin Rais.
          2.  Program Pembinaan
               Program pembinaan AIK bagi karyawan selama ini belum mempunyai program yang teratur dan tertata rapi dalam bentuk kurikulum, sehingga masih sering materi-materi yang sudah pernah disajikan disajikan lagi pada masa pembinaan AIK berikutnya.
               Di kalangan para pejabat struktural (Dekan) dan PSIF menilai bahwa kajian yang selama ini dilakukan masih menekankan pada materi-materi yang bersifat sentuhan rohani, dan materi yang demikian ini pada umumnya hanya cocok untuk karyawan.  Sedangkan materi yang bersifat pemikiran, masih sangat sedikit. Sedangkan para karyawan edukatif lebih banyak membutuhkan materi yang bersifat pemikiran dan sedikit materi yang bersifat sentuhan rohani.
          3.  Tujuan Pembinaan
               Berdasarkan dokumen dari Askorbid AIK, tujuan pembinaan AIK bagi karyawan secara umum adalah:
a. Menanamkan dan meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan dan
pengamalan  AIK dosen dan karyawan
b. Meningkatkan semangat (ghirah) keberagamaan dan dakwah
c. Memupuk ukhuwah Islamiah antar  sesama dosen dan karyawan
                    d.  Memupuk kecintaan kepada persyarikatan Muhammadiyah
                        Hanya saja tujuan ini masih bersifat umum untuk seluruh program. Sedangkan tujuan untuk masing-masing program belum ada penjabarannya.
          4.  Metode Pembinaan
               Metode yang digunakan dalam pembinaan AIK bagi karyawan selama ini antara lain metode ceramah, tanya jawab dan diskusi, demonstrasi dan games.
          5.  Sarana dan Prasarana
Adapun yang menyangkut sarana dan prasarana, baik kaur dan maupun peserta yang menggunakan mushalla di gedung Fakultas Ekonomi, mushalla lantai V GKB I  mengeluh dengan sarana ruangan yang terbatas yang juga digunakan oleh para mahasiswa untuk melaksanakan salat Dzuhur, sehingga harus menunggu mereka selesai melaksanakan salat. Sedangkan yang lain tidak ada keluhan, sebab di samping menggunakan ruangan yang memang tidak digunakan oleh para mahasiswa.
Sedangkan yang berkenaan penggunaan media pembelajaran audio-visual, selama ini pembinaan AIK, khususnya kajian, tidak menggunakannya, sebab sarana tersebut memang tidak tersedia.
       Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) dan interview dengan para responden di atas, maka ada beberapa kendala dalam pembinaan AIK bagi karyawan.
          1.  Program kajian kadangkala berbenturan dengan acara-acara resmi kampus   yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga terpaksa dicari hari lain sebagai pengganti waktu untuk pembinaan. Bagi karyawan edukatif waktu pembinaan berbenturan dengan jam-jam mengajar yang tidak mungkin bisa ditinggalkan. Ini salah satu alasan, mengapa pelaksanaan program kajian khususnya belum dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan.
          2.  Masih ada di antara karyawan, terutama karyawan edukatif yang belum dapat baca-tulis Al-Qur’an yang merasa malu untuk belajar membaca Al-Qur’an.
          3.  Sarana dan prasarana, khususnya tempat pembinaan masih ada yang kurang kondusif, sebab tempat tersebut digunakan juga oleh para mahasiswa untuk salat bersamaan dengan waktu pembinaan.
          4.  Audio visual yang dapat digunakan pembinaan, khususnya kajian dan PIR, belum ada.
          5.  Khusus untuk PIR, masih adanya kesulitan bagi karyawati administratif dan edukatif untuk meninggakan anak-anak dan suami di rumah.
          6.  Belum adanya kesadaran yang sebagian karyawan administraif maupun edukatid untuk mengikuti program pembinaan AIK. 
            Ada beberapa saran untuk pembinaan AIK bagi dosen dan karyawan, yaitu:
           1.  Hendaklah di masa-masa yang akan datang program-program pembinaan AIK bagi karyawan tersebut dilaksanakan lebih intensif.
           2.  Materi-materi program hendaklah dituangkan dalam bentuk kurikulum, dengan penjabaran tujuan dan target dan waktu pelaksanaannya.
           3.  Asisten Koordinator Bidang AIK hendaklah mengidentifikasi dan mengklasifikasi kemampuan beragama dan baca tulis Al-Qur’an karyawan edukatif dan administratif, sehingga pembinaan AIK disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
           4.  Perlu adanya sinergi antara bagian-bagian yang terkait dengan pembinaan AIK, sehingga diharapkan program pembinaan AIK tidak tumpang tindih satu sama lain.
Kepustakaan
Al-Qur’an
Asisten Koordinator Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMM (2004).
 Dokumen-Dokumen Pelaksanaan Pembinaan AIK Karyawan. Tidak
 diterbitkan.
Bakri, Masykuri, H (2004): Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data Dalam
Penelitian. Makalah penataran dan lokakarya metodologi penelitian dosen
PTN dan PTS tahun 2004 yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dirjen Dikti Departmen
Pendidikan Nasional dan Lembaga Penelitian UMM di Malang, 2 - 5
 Agustus
Daradjat, Zakiah, dkk, Dr. (1995) Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Bumi Aksra, Jakarta.
_________ (1996) Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bumi Aksara,  Jakarta
Goetz, J.P. & Le Compte, M.D. (1984):  Ethnography And Qualitative Design
 in Educational Research. Academy Press. Inc., New York.
Hasan, Ibrahim Hasan (1964): Tarikh Al-Islam. Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut.
http:webspi.hypermart.net.kurikulum pendidikan Islam.htm
Iqbal, Zafar, Dr.M (1996) Teachers Training- The Islamic Perspektive. Institute Of Policy Studies and International Institute of Islamiv Thought Islamabad.
Jalaluddin, Prof. Dr. H (2001) Teologi Pendidikan. Raja Grafindo Persada,
 Jakarta.
Jurnal Ulumul Qur’an No. 6, Juli-September 1990. Lembaga Studi Agama dan
 Filsafat (LSAF), Jakarta.

Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah (2004) Kumpulan Bahan Pelatihan Stakeholders Pengembangan Civic Education di Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
______ Majelis Tarjih (t.th): Himpunan Putusan Majelis Tarjih. Pimpinan Pusat
 Muhammadiyah, Yogyakarta. 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1990): Muqaddimah, Anggaran Dasar dan
 Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Pimpinan Pusat
 Muhammadiyah,Yogyakarta.
Pimpinan Pusat Muhammadiayah Badan Pendidikan Kader (1990): Pedoman
Pelaksanaan Perkaderan Muhammadiyah. PP Muhammadiyah Badan
 Pendidikan Kader. Yogyakarta.
Razak, Nasruddin, Drs. ( 1985) Dienul Islam. Al-Ma’arif, Bandung
Subagyo, P. Joko ( 1991): Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Rineka Cipta, Jakarta.
Team (2005) Metode Pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LP-3) dan The Asia Foundation.
Yin, R.K. (1987): Case Study Research: Design and Methodes. CA. Sage
 Publication, Beverly Hill.





           



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar