Rabu, 24 November 2010

Pendidikan Islam


BAB I

PENDAHULUAN


Rasulullah SAW, sebagai suri tauladan dan rahmatan lil’alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah (al-ahzaab : 21) adalah pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan Islam. Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spitualisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Rasulullah dapat dikatakan sebagai mukjizat luar biasa, yang manusia apa dan dimana pun tidak dapat melakukan hal yang sama.
Hasil pendidikan Islam periode Rasulullah terlihat dari kemampuan murid-muridnya (para sahabat) yang luar biasa, misalnya : umat ibn Khotab ahli hukum dan pemerintahan, Abu Hurairah Ahli Hadis, Salman al-Farisi ahli Perbandingan Agama : Majusi, Yahudi, Nasrani dan Islam dan Ali ibn Abi Thalib ahli hukum dan tafsir al-Qur’an, kemudian muri dari para sahabat dikemudian hari, tabi’-tabi’in, banyak yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan sains, teknologi, astronomi, filsafat yang mengantarkan Islam pintu gerbang zaman keemasan. Hanya periode Rasulullah, fase Makkah dan Fase Madinah, para aktivis pendidikan dapat menyerap berbagai teori dan prinsip dasar yang berkaitan dengan pola-pola pendidikan dan interaksi sosial yang lazim dilaksanakan dalam setiap manajemen pendidikan Islam.
Gambaran dan pola pendidikan Islam diperiode Rasulullah SAW di Makka dan Madinah adalah sejarah masa lalu yang perlu kita ungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber gagasan, gambaran strategi mensukseskan pelaksanaan proses pendidikan Islam. Pola pendidikan dimasa Rasulullah SAW, tidak terlepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidikan, peserta didik. Lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoristis maupun praktis.
Makalah singkat dan tipis ini tidak dapat menampung semua bentuk pola pendidikan silam karena keterbatasan waktu dan juga keterabatasan ilmu penulis dalam mengungkapkannya. Meskipun makalah ini sangat sederhana paling tidak akan menambah motivasi dan wawasan pembaca untuk meninjau dan menggali lebih dalam tentang pola pendidikan Islam periode Rasulullah. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi para pembaca. Wallahu alam ala kulli haq, wassalam.










BAB  II
POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA PERIODE RASULULLAH
( MAKKAH DAN MADINAH )
Oleh : Kamaruzzaman
Kondisi sosio-kultural masyarakat Arab pra Islam.[1] Terutama  pada masyarakat Makkah dan Madinah sangat mempengaruhi pola pendidikan periode Rasulullah di Makkah dan Madinah. Secara kuantitas orang-orang yang masuk Islam pada fase Makkah lebih sedikit dari pada orang-orang yang masuk Islam pada fase Madinah. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat Madinah lebih mudah dimasuki ajaran Islam karena saat kondisi masyarakat, khususnya Aus dan Khazraj, sangat membutuhkan seorang pemimpin, untuk melenturkan pertikaian sesame mereka dan sebagai “pelindung” dari ancaman kaun Yahudi, disamping sifat penduduknya yang lebih ramah yang dlatarbelakangi kondisi geografis yang lebih nyaman dan subur. Penulis mencoba mengungkapkan pola pendidikan Islam periode Rasulullah SAW yang dapat dibedakan menjadi dua fase yaitu (1) fase Makkah ; (2) fase Madinah.

A. Fase Makkah

Allah Maha bijaksana, sebagai calon panutan umat manusia, Muhammad ibn Abdullah sejak “awal sekali” telah disiapkan Allah, dengan menjaganya dari sikap-sikap jahiliyah.[2] Dengan akhlaknya yang terpuji, syarat dengan nilai-nilai humanisme dan spiritualisme detengah-tengah umat yang hamper saja tidak berprikemanusiaan, Muhammad ibn Abdullah, masih sempat mendapat gelar penghargaan tertinggi, yaitu al-Amiin.[3]  Ibn  Abdullah, seorang yang teguh mempertahankan tradisi Nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki, menjatuhkan diri dari keramaian dan sikap hedonisme dengan berkontenplasi (bertahannus) di Gua hira.
 Pada tanggal 17 Ramadhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat al’Alaq ayat 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Makkah.
1. Tahapan Pendidikan Islam pada fase Makkah
Pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini penulis membaginya kepada tiga tahap  :
a. Tahap Pendidikan Islam secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation) al-Qur’an surat 96 ayat 5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosial politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya, Khadijah untuk beriman kepada dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali Ibn Abi Thalib (anak pamannya) dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Siddiq. Secara beransur-ansur ajakan tersebut disampaikan secara meluas, tetapi masih terbatas dikalangan keluarga dekat dari suku Qurays saja seperti Usman ibn Affan, Zubair ibn Awan, Sa’ad ibn Abi waqas, Bdurrahman ibn Auf, Thalhah ibn ubaidillah, Abu Ubaidillah ibn Jahrah, Arqam ibn Arqam, Fatimah binti Khattab, Said ibn Zaid, dan beberapa orang lainnya, mereka semua tahap awal ini disebut Assabiquna al awwalun, artinya orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah rumah Arqam ibn Arqam.[4]
b. Tahap Pendidikan islam secara terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun, sampai turun waktu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan.[5] Ketika wahyu tersebut turu, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul dibukt Shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras dikemudian hari (hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, Celakalah kamu Muhammad ! untuk inikah kami mengumpulkan kami ?. saat itu turun wahyu menjelaskan perihal Abu Lahab dan Isterinya.[6]
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Disamping itu, keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh Kuffar Qrays.
c. Tahap Pendidikan Islam untuk Umum
Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal sesuaid engan apa yang diharapkan. Maka rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umu, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah allah, surat al-Hijr ayat 94-95.
Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji rasulullah mendatangi kemah-kemah pada jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali sekelompok jamaah haji dari Yastrib, Kabiulah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar keluar Makkah.
Penerimaan masyarakat Yatsrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut dikarenakan beberapa faktor, (1) adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahirnya seorang Rasul ; (2) Suku Aus dan Khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok yahudi ; (3) Komplik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pimpinan yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Berikutnya, dimusim haji pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad SAW, Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan, yang dikenal dengan “Bai’ah al’Aqabah I” mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah SWT, tidak akan mencuri dan berzina : tidak akan membunuh anak-anak, dan menjauhkan perbuatan-perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dalam yang benar, dan tidak mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.
Berkat semangat yang tinggi yang dimiliki para sahabat dalam mendakwahkan ajaran Islam, sehingga seluruh penduduk Yastrib masuk Islam kecuali orang-orang Yahudi. Musin haji berikutnya 73 orang jamaah haji dari Yastrib mendatangi Rasulullah SAW dan menetapkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya ditempat yang sama dengan pelaksanaan “Baiah al-Aqabah I” tahun lalu, yang dikenal dengan “Baiah al-Aqabah II” dan mereka bersepakat akan memboyong Rasulullah ke Yatsrib.
 2. Materi Pendidikan Islam
Materi pendidik pada fase Makkah dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu (1) pendidikan tauhid ; (2) pengajaran al-Qur'an. Pertama, matei pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahin, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyah. Secara teoris intisari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat al-Fatihah ayat 1-7 dan surat al-Ikhlas, ayat 1-5. secara praktis pendidikan tauhid diberikan malaui cara-cara yang bijaksana, menuntun akan pikiran dengan mengajak umatnya untuk pembaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. Kemudian beliau mengajarkan cara bagaimana mengaplikasikan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah langsung menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasaan masyarakat Arab yang memulai perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim.kebiasaan menyembah berhala, maka diganti dengan menggagungkan dan menyembah Allah SWT.[7]
Kedua, materi pengajaran al-Qur’an. Materi inidapat dirinci kepada : (1) materi tulis baca al-Qur'an, untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’. Dengan matei ini diharapkan agar kebiasaan orang Arab yang sering membaca syair-syair indah, diganti dengan membaca al-Qur'an sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai sastranya (2) Matei menghafal ayat-ayat al-Qur'an, yang kemudian hari disebut dengan menghafalkan ayat-ayat suci al-Qur'an, (3) Materi pemahaman al-Qur'an, saat ini disebut dengan materi fahmi al-Qur'an atau tafsir al-Qur'an : tujuan materi ini adalah meluruskan pola piker umat Islam yang dipengaruhi pola piker jahiliyah. Disinilah letaknya fungsi hadis sebagai bacaan al-Qur’an.
3. Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam membidik sahabatnya antara lain  : (1) metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya ; (2) dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai Ahadi ke negeri Yaman, dialog antara Rasulullah dengan para sahabat untuk mengatur strategi perang, (3) diskusi atau Tanya jawab ; sering sahabat bartanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian rasul menjawab, (4) metode perumpanaan : misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya. (5) metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra` dan miraj dan kisah tentang pertemuan anatara nabi Musa dengan nabi Khaidir (6) metode pembiasaan : membiasakankaum muslimin shalat berjemaah (8) metode hafalanmisalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Quran dengan menghafalnya.
Dalam buku “Tarbiyah Islamiyah” yang ditulis oleh Najb Khalid al-Amar, mengatakan bahwa metode pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad Saw pada periode Makkah dan Madinah, adalah (1) melalui teguran langsung   misalnyahadist Rasulullah Saw : Umar ibn Salmah r.a”dulu akan menjadi pembantu di rumah Rasulullah Saw, ketika makan misalnya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu beliau berkata, Hai ghulam bacalah bismillah, makanlah dengan kananmu, dan makanlah apa yang ada didekatmu” (2) melalui sindiran Rasulullah bersabda : “apa keinginan kaum yang mengatakan begini begitu? Sesungguhnya aku shalat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka dan aku menikahi wanita maka barangsiapa yang tidak senang dengasn sunnahku berarti dia bukan golonganku. ( lihat Shahirul  Jami` Ash Shaghir, jus 5 hadis no 5448 ( 3) pemutusan dari jamaah. Pernah Ka`ab ibn Malik tidak ikut beserta Rasullah Saw dalam perang Tabuk. Dia berkata Nabi melarang sahabat lainnya berbicara dengan aku, disebutkan Rasulullah Saw bersabda perintahkanlah anak-anakmu shalat dari usia tujuh tahun dan pukullah mereka kalau enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan merka dari tempat tidur ( HR Abu Daun dan Hakim)[8] (5) melalui perbandingan kisah orang-orang terdahulu;  menggunakan kata isyarat : misalnya merapatkan kedua jarinya sebagai isyarat perlunya menggelang persatuan; keteladanan setiap apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw maka yang menjadi uswahnya adalah Rasulullah sendiri.

4. Kurikulum Pendidikan Islam

       Kurikulum pendidikan Islam pada priode Rasululah baik di makkah maupun madinah adalah al-Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yag dialami umat Islam pada saat itu, karena itu dalam prakteknya tidak saja logis dan rasional tapi juga fitra dan pragmatis. Hasil cara yang demikian dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya.
5. Lembaga Pendidikan Islam
     Menurut hemat penulis lembaga pendidikan Islam pada fase Makkah ada dua macam tempat yaitu rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttah
One.           Rumah Arqam ibn Arqammerupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
Two.          Kuttab. Pendidiksan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakandi rumah Arqam ibn Arqam, pendidikan di rumah Arqam ibn Arqam kandungan materi tentang hukum Islam dan Dasar –dasar agama Islam , sedangkan pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi tulis baca sastra, syair arab dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi tulis baca al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Adapun guru yang mengajar di Kuttab pada era awal Islam adalah orang-orang non Islam. Dalam sejarah pendidikan Islam istilah kuttab telah dikenal dikalangan bangsa arab pra Islam, secara etimologi kuttab berasal dari bahasa Arab yakni kataba, yaktubu, kitaaban yang artinya telah menulis, sedang menulis dan tulisan sedangkan maktab artinya meja atau tempat menulis

B. Fase Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad Saw bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka Islam mendapat lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah, lingkungan yang da`wahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wahyu secara beruntun selama periode Madinah kebijaksanaan Nabi Muhammad Saw dalam mengajarkan al-Quran adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Quran sebagaimana diajarkannya. Beliau sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan al-Quran dalam salat,dalam pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain kesempatan.
1.                            Lembaga Pendidikan Islam
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijra ke Madinah salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Setelah  selesai pembangunan masjid, maka nabi Muhammad Saw pindah menempati sebagian ruangannya yang memang khusus disediakan untuknya. Demikian pula di antara kaum Muhajirin yang miskin yang tidak mampu membangun tempat tinggalnya sendiri.
Masjid itulah pusat kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersama-sama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid dan memcerminkan persatuan dan kesatuan umat. Dimasjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjemaah, membacakan al-Quran, maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian masjid itu merupakan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suatu kebijaksanaan yang sangat efektif dalam pembinaan dan pengembangan masyarakat baru di Madinah, adalah disyari`atkannya media komunikasi berdasarkan wahyu, yaitu shalat Jumat  yang dilaksanakan secara berjemaah dan adzan. Dengan shalat Jumat tersebut hampir seluruh warga masyarakat berkumpul untuk secara langsung  mendengar khutbah dari nabi Muhammad Saw dan shalat Jumat berjemaah.[9]
2.                            Materi Pendidikan Islam di Madinah
Pada fase Madinah materi pendidikan yang diberikan cakupannya lebih komplek dibandingkan dengan amteri pendidikan fase Makkah. Di antara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah :
1)                           Pendidikan ukhwah ( persaudaraan) antara kaum muslimimin
Dalam melaksanakan pendidikan ukhwah ini, nabi Muhammad saw bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu nabi Muhammad saw berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka dipesaudarakan karena Allah bukan karena yang lain-lain. Sesuai dengan isi kontitusi Madinah pula, bahwa antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya menanggung beban hidup dan utang yang berat di antara sesama mereka. Anatara orang yang beriman satu sama lainnya harusla saling bantu membantu dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka harus bekerja sama dalam mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama dan menolak kemudaratan atau kejahatan yang akan menimpa[10]
2)                           Pendidikan kesejahteraan sosial
Terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok daripada kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah. Untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah dipersaudarakan dengan kaum Ansor, agar mereka bekerja bersama dengan saudara-saudaranya tersebut. mereka kaum Muhajirin yang biasa betani silakan mengikuti pertanian, yang biasa berdaganga silakan mengikuti saudara yang berdagang. Untuk pengamanan nabi Muhammad Saw membentuk satuan-satuan pengamat yang mendapat tugas untuk menjaga kemungkinan-kemungkinban terjadinya serangan dan gangguan terhadap kehidupan kaum muslimin. Satuan-satuan ini adalah merupakan embrio dari pasukan yang bertugas untuk mengamankan dan mempertahankan serta mendukung tugas-tugas da`wah Islam lebih lanjut.
3)                           Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri dan anak-anaknya. Nabi Muhammad Saw berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan sistem kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan taqwa kepada Allah. Diperkenalkannya sistem kekeluargaan dan kekerabatan yang berdasarkan pada pengakuan hak-hak individu, hak-hak keluarga dan kemurniaan keturunannya dalam kehidupan kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang, seperti yang terlihat dalam surat al-Hujarat ayat 13 :
Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu
Hubungan kekerabatan, terbentuk dengan sendirinya sebagai akibat dari aturan tentang muhrim dan ahli waris bagi seorang yang meninggal dunia serta aturan perwalian. Dalam hubungan kekerabatan ini, ciri-ciri individu dan keluarga tampak jelas dan menonjol dengan hak milik terhadap harta kekeyaan, sedangkan ciri kekerabatan hanya nampak pada hakekatnya hubungan antar individu yang ditandai dengan tidak boleh melaksanakan perkawinan intern kerabat.
4)                           Pendidikan hamkam (pertahanan dan keamanan ) dakwah Islam
Masyarakat kaum muslimin merupakan satu state (negara)  di bawah bimbingan nabi Muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu setelah masyarakat kaum muslimin di Madinah berdiri dan berdaulat, usaha nabi Muhammad Saw berikutnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar Madinah untuk mengakui konstitusi Madinah. Ajakan tersebut disampaikan dengan baik-baik dan bijaksana.
Untuk mereka yang tidak mau mengikat perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan nabi Muhammad Saw yaitu (1) kalau mererka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslimin atau kaum kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslimin, maka mereka dibiarkan saja; (2) tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslimin atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, maka harus ditundukan/diperangi, sehingga merka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslimin[11]

















BAB III

PENUTUP
Pola  pendidikan Islam periode Rasulullah Saw fase makkah-Madinah belum semuanya penulis buisa termuat dalam makalah. Paling tidak dari pembahasan tersebut akan ditemukan benang merah bahwa pola pendidikan fase Makkah dan Madinah memiliki persamaan dan perbedaan, fase Makkah ada dua lembaga pendidikan yaitu rumah Arqam ibn Arqam dan Kuttab, sedangkan di Madinah lembaga pendidikan rumah para sahabat dan Masjid yang multi fungsi
Materi pendidikan di madinah adalah sebagai berikut
-                       Pendidikan ukhwah ( persaudaraan) antara kaum muslimimin
-                        Pendidikan kesejahteraan sosial
-                       Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat
-                       Pendidikan hamkam (pertahanan dan keamanan ) dakwah Islam
Kuriukulum yang dipakai Makkah dan Madinah adalah sama yaitu al-Quran yang dijelaskan dengan hadis nabi Muhammad Saw yang diturunkan secara berangsur-angsur, hanya kurikulum di Madinah lebih komplit, seirama dengan bertambahnya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw






DAFTAR KEPUSTAKAAN


Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penrj. Ali Audah ( Jakarta : Balai Pustaka, 1972)
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Buni Aksara : bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1997), cet ke-5
 ajb Khalid al-Amar, tarbiyah Rasulullah, penjrj. Ibn Muhammad, Fakhrudin Nursyam ( Jakarta : Gema Insani Prres 1996), cet ke-3
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Buni Aksara : bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1997), cet ke-5,  



[1]Kondisi Sosial kemasyarakatan dikalangan bangsa Arab, terdapat beberapa kelas masyarakat, berbeda antara satu dengan lainnya. Bangsa Arab sangat mendewakan tuan dan menghina budak. Bahkan tuan berhak atas semua harta rampasan dan kekayaan, dan hamba diwajibkan membayar denda dan pajak, budak laksana ladang bercocok tanah menghasilkan banyak kekayaan. Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem dictator. Banyak hak yang hilang dan terabaikan. Para budak tidak bisa melakukan perlawanan sedikitpun, banyak diantara mereka yang merasa kelaparan, penderitaan, dan kesulitan yang tidak jarang merenggut nyawanya, dengan sia-sia. Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominant untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jalur jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sementara kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di jazirah Arab kecuali bulan-bulan suci. Pada saat itulah dibuka pasar-pasar arab yang terkenal seperti Ukadz, dzil-Majaz, Madinah dan lain-lainnya. Mereka tidak menguasai perindustrian dan kerajinan. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab seperti jahit menjahit, menyamak kulit dan lain-lainnya berasal dari rakyat Yaman, Hirah dan pinggiran Syam. Sekalipun begitu ditengah jazirah ada pertanian dan pengembalaan hewan ternak. Sedangkan wanita-wanita Arab cukup dengan pemintalan. Tetapi kekayaan-kekayaan yagn dimiliki bisa mengundang pecahnya peperangan. Kemiskinan, kelaparan dan orang-orang yang telanjang merupakan pemandangan biasa ditengah masyarakat. Kondisi kehidupan beragama sangat ironis sekali. Orang-orang musyrik orang khufarat tumbuh subur berimbas kepada kehidupan sosial politik dan agama. Orang-orang Yahudi berubah menjadi orang-orang yang angkuh, sombong. Pimpinan-pimpinan mereka menjadi sesembahan selain Allah. Sedangkan agama Nasrani berubah menjadi agama peganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampuradukan antara Allah dan Manusia. Dari segi Akhlah, mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba dan membanggakan diri dalam masalah kedermawaan dan kumrahan hati, orang yang menempati janji, kemuliaan jiwa dan eengganan menerima kehinaan dan kezaliman, pantang mundur, kelemah-lembutan atau menolong orang lain, kesederhanaan pola kehidupan badui. Lihat, Shafiyurraman al-Mubarakfury, Shirah Nabawiyah, Penjr.Kathur Suhardi, (Jakarta : Pustaka AIK Autsar, 2000), cetakan ke-9, h 46-64.

[2]Jika ada kecenderungan jiwa yang tiba-tiba yang mengelitik untuk mencicipi sebagian kesenangan dunia atau ingin mengikuti sebagian tradisi yang tidak terpuji, maka pertolongan Allah masuk sebagai pembatas antara diri beliau dan kesenangan atau kecenderungan itu. Ibnu Atsir meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, Tidak pernah terlintas dalam benakku suatu keinginan untuk mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang-orang jahiliyah kecuali dua kali. Namun kemudian Allah menjadi penghalang diantara diriku dan keinginan itu. Setelah itu tidak lagi berkeinginan sedikitpun hingga Allah memuliakan kau dengan risalahnya, suatu malam aku pernah berkata kepada seorang pemuda yang sedang mengembala kambing bersamaku disuatu bukit di Makkah. “Tolong awaslah kambing-kambing gembalaanku, karena aku hendak masuk Makkah dan hendak mengobrol disana seperti yang dilakukan para pemuda lain”. Aku akan melaksanakannya, “Kata pemuda rekanku. Maka aku beranjak pergi. Disamping rumah pertama kulewatidi Makkah, aku mendengar suara tabuhan rebana, “Apa ini ? aku bertanya. Orang-orang menjawab, “Perhelatan pernikahan fulan dan fulanah, “Aku ikut dukuk dan mendengarkan. Namul Allah menutup telingaku dan aku langsung tertidur, hingga aku terbangun karena sengatan matahari esok harinya. Aku kembali kerekanku dan dia langsung menanyakan keadaannku. Maka mengabarkan apa yang terjadi. Pada malam lainnya aku berkata seperti itu pula dan berbuat hal sama seperti malam sebelumnya. Maka setelah malam lainnya aku berkata seperti itu pula dan berbuat hal sama seperti malam sebelumnya. Maka setelah aku tidak lagi ingin berbuat hal yang buru, (Keshalihan hadist ini diperselisihkan. Al Hakim mensyahihkanya dan ibn Katsir mendha’ifkannya didalam Al-Bidayah Wa an Nihayah, 2/287). Ibid h. 86-7

[3]Rasulullah SAW adalah seorang hamba Allah ang berhiaskan budi pekerti yang luhur dan terpuki. Beliau sangat terkenal dikalangan masyarakat Quraisy sebagai kestria, selalu teguh dan tepat memegang janji, orang yang baik dengan tetangga dan sangat santun dan orang-orang yang selalu menjauhkan diri dari perbuatan tidak baik, rendah diri (tawadu’) dermawan, pemberani, jujur dan terpercaya hingga mereka menyebutnya “Al Amin” lihat Hasan Ibrahin Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Penerj. H.A. Baharudin (Jakarta : Kalam Mulia 2002) Jilid ke I, cet ke I, hal 141-2
[4] Lihat QS 26. 213-216
[5]Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penrj. Ali Audah ( Jakarta : Balai Pustaka, 1972) h. 30-2
[6]Lihat, QS 111 :1-5

[7]Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Buni Aksara : bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1997), cet ke-5, h 23-7

[8] Lihat Najb Khalid al-Amar, tarbiyah Rasulullah, penjrj. Ibn Muhammad, Fakhrudin Nursyam ( Jakarta : Gema Insani Prres 1996), cet ke-3 h. 33-41

[9]Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Buni Aksara : bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1997), cet ke-5, h 23-7
[10]Ibid. h. 44

[11]Ibid., h. 62

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar